Perbedaan Krisis Ekonomi Di Masa Pandemic Dengan Apa Yang Terjadi Di Tahun 1998

Perbedaan Krisis Ekonomi Di Masa Pandemic Dengan Apa Yang Terjadi Di Tahun 1998

Perbedaan Krisis Ekonomi Di Masa Pandemic Dengan Apa Yang Terjadi Di Tahun 1998

Berita Terbaru Ekonomi dan Bisnis – Beberapa pelaku Ekonomi seperti Bank memang menjadi salah satu perusahaan yang benar benar merasakan dampak negatif dari corona virus. Hal ini lah yang membuat Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk ( BCA) Jahja Setiaatmadja menanggapinnya. Beliau menginbaratkan Krisi pandemic ini seperti penyakit storke. Recovery penyakit stroke memang memerlukan waktu yang lama, begitupun dengan kedaaan ekonomi yang tedampak oleh Covid-19. Akan tetapi apa yang dilakukan oleh para pelaku ekonomi di krisi covid ini sudah dikatakan lebih baik dari pada krisi yang terjadi di tahun 1998. Jahja bilang, kasus 1998 memang membawa pelajaran berarti bagi seluruh pelaku pasar, entah itu masyarakat, perbankan, maupun eksportir. Maka dari itu terjadinnya krisis ekonomi ini membuat beberapa pelaku ekonomi sudah dewasa dalam mengahadapinnya.

Perbedaan Krisis Ekonomi Di Masa Pandemic Dengan Apa Yang Terjadi Di Tahun 1998

“Kita bersyukur tahun 1998 itu mempersiapkan perbankan dan para pengusaha, memberikan suatu lesson yang sangat penting,” kata Jahja dalam konferensi video, Rabu (10/6/2020). Pembelajaran yang paling terasa dari sebuah krisis yang terjadi dulu saat rush money terjadi di tahun 1998. Masyarakat yang memindahkan uangnya ke bank besar berujung menarik dana hingga Dana Pihak Ketiga (DPK) terkuras. “Pada awal 1998 terjadi gejolak Politik. Bank besar dan bank swasta, termasuk BCA terkena rumor masalah politik. Orang-orang yang tadinya memindahkan dana ke bank besar, langsung panik. Lebih dari 35 persen DPK kita dikuras,” cerita Jahja.

Akibat kejadian tersebut pemerintah pun harus mengabil keputusan pada saat ini. Keputasan itu salah satunnya adalah menerbitkan UU Nomor 10 Tahun 1998. “Masyarakat yang dananya Rp 2 miliar ke bawah, harusnya merasa jauh lebih tenang (karena ada penjaminan). Ini lesson (pelajaran) untuk masyarakat,” ungkap Jahja. Sementara pelajaran untuk perbankan adalah lebih hati-hati dalam setiap mengambil keputusan, agar manajemen risiko bisa terjaga saat krisis tiba-tiba menyerang. “Dulu saya ingat, bank besar portofolio pinjaman dan dana dollar itu 40-50 persen dari BUKU. Contoh sekarang BCA, portofolio dollar hanya berani 8 persen, dulu 30 persen. Sampai sebegitu konservatifnya untuk menjaga things happen kita proteksi dari segi risk management,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *